Apakah keberuntungan dan ketidakberuntungan bersifat permanen? Apakah ia merupakan takdir yang tak dapat diubah? Pertanyaan ini sangat penting bagi setiap orang. Jawaban atas ini akan menentukan gerak usaha yang dilakukan.
Tidak ada yang tak dapat diusahakan. Tak ada yang bersifat permanen, kecuali Allah. Argumen ini menjawab bahwa keberuntungan dan ketidakberuntungan bukanlah takdir yang permanen. Manusia dalam kadar tertentu, memiliki potensi untuk berkembang. Dan peradaban manusia yang sangat luar biasa terjadi karena gerak tiada henti percobaan-percobaan, usaha-usaha, dan bahkan kesalahan-kesalahan. Saya tidak percaya ramalan, klenik, dan statemen berdasarkan ‘wangsit’ yang tidak ilmiah. Allah swt telah menetapkan hukum alamiah (sunnatullah) yang masuk akal. Jika tidak, maka hukum-hukum-Nya tidak fungsional.
Perhatikan, orang-orang cacat dapat hidup dan bekerja. Yang buta, tajam rasa dan hatinya. Yang tak punya jari-jari tangan, terampil menulis dan bahkan memasukkan benang ke dalam jarum. Kecacatan tak melumpuhkan kreatifitas dan potensi lainnya. Pemikir Muslim terkemuka, Taha Husein buta kedua matanya, tetapi karya-karyanya menerobos dinding-dinding ilmu dan peradaban. Bahkan Rasulullah saw tak dapat membaca dan menulis, tetapi kebersihan hatinya menaklukkan seluruh alam.
Bagaimana dengan yang tidak cacat? Yang seluruh anggota tubuhnya utuh dan normal? Semestinya, mereka lebih baik dan lebih mudah melakukan kerja-kerja berkelas dan menaklukkan jaman. Dengan mudahnya informasi dan terbukannya kesempatan, setiap diri umat Islam dapat melakukan lompatan-lompatan kuantum. Umat Islam memiliki tradisi untuk shalat. Shalat adalah instrumen yang melatih secara rutin kesabaran. Umat Islam juga diajari tentang keimanan. Rasa iman melatih terampil dalam keyakinan dan optimisme terhadap masa depan. Umat Islam juga biasa dengan ajaran akhlak. Ajaran akhlak melatih untuk terampil dalam mengelola emosi, spiritual, dan berinteraksi dengan yang lain. Nilai-nilai Islam tersebut amat kondusif bagi penciptaan prestasi-prestasi luar biasa baik dalam keilmuan maupun kehidupan. Potensi-potensi inilah yang dahulu dimiliki para ilmuwan di Abad Pertengahan. Ibn Shina, Ibn Rusyd, al-Ghazali, Al-Khawarizmi, Al-Thabary, Ibn Khaldun, Ibn Taymiyya, Ibn Araby, dan lain-lain adalah sosok-sosok yang telah menampilkan ciri Muslim yang sangat baik. Karya-karya mereka masih dibaca, dipelajari, dan memengaruhi gerak peradaban Islam hingga sekarang.
Pribadi-pribadi besar yang telah melahirkan karya-karya besar adalah contoh dari kemampuan mengelola potensi diri. Dan setiap manusia memiliki potensi dasar yang sama, yakni akal dan kesadaran. Akal adalah simbol ilmu pengetahuan dan kesadaran adalah simbol dari keimanan. Memupuk keduanya harus seimbang sehingga kemampuan akal dapat dilejitkan ke arah keunggulan. Semenra kesadaran merawat akal agar tetap berjalan di atas rel kebajikan universal. Pertanyaannya, apakah kita mampu menjadi manusia-manusia besar yang menghasilkan karya-karya besar bagi kebaikan umat universal?
Penulis:
Dr. Mudhofir Abdullah MA.
Pengamat Sosial Politik dan Staf Pengajar STAIN Surakarta
kirim ke teman |
versi cetak