Saat ini sekitar 210.000 jemaah haji asal Indonesia tengah berada di Saudi Arabia. Kedatangan mereka ke baitullah (rumah Allah) bukan dalam rangka plesir, shoping, atau sekedar mengesahkan gelar H, Hj. didepan namanya. Lebih dari itu, tentunya mereka telah menyadari bahwa kehadiran mereka ke tanah suci adalah dalam rangka melaksanakan rukun Islam ke-lima, yakni menunaikan Ibadah Haji.
Dalam Islam, ibadah, di samping terkait dengan kepatuhan terhadap perintah Allah, juga mengandung makna sosial. Demikian pula dengan ibadah haji. Ibadah yang memerlukan kesiapan fisik material dan mental ini, secara spiritual merupakan gerakan kesaksian pada keagungan Tuhan (musyâhadah). Titik limit dari kesadaran kesaksian itu yang akan melahirkan kebaikan (birr) . Inilah pangkal dari haji mabrur, haji yang mampu memberikan kebaikan kepada sesama dan alam semesta. Kebaikan itu lahir dengan memaknai spirit dari ritus-ritus dalam prosesinya.
Ibadah Haji hakekatnya adalah lambang perjuangan kemanusiaan. Thawaf (berputar berkeliling) di Ka'bah, adalah simbol perjuangan menyatukan langkah, pikiran dan hati manusia dalam kepasrahan total menuju satu titik dari mana mereka berasal dan kesana pula mereka kembali. Titik itu tidak lain adalah Allah. Dia adalah pusat eksistensi, kepadaNya seluruh alam semesta harus mengabdi dan menghambakan diri.
Perjuangan hidup seharusnya memang diarahkan dalam kerangka ini dan bukan ke arah yang lain. Sa'i (berlari-lari kecil) dari bukit Shafa ke bukit Marwah, adalah simbol perjuangan keras meraih hidup sejahtera. Simbol ini ditampilkan lewat peran seorang perempuan papa, Siti Hajar. Ia mencari air sumber kehidupan dan kesuburan bagi manusia dan alam. “Dan Kami jadikan dari air segala sesuatu” (QS. Al-Anbiya [21]: 30). Tuhan pun lalu menganugerahinya air Zam-zam.
Air Zam-zam sendiri melambangkan kehidupan yang bersih, murni, sehat dan halal. Dan, istri nabi Ibrahim a.s. sesungguhnya bukanlah sosok yang berjuang untuk dirinya sendiri, tetapi juga untuk manusia yang tidak berdaya; anaknya, Ismail, dan pada akhirnya diperuntukkan untuk berjuta-juta manusia. Selanjutnya wuquf (berdiam diri) di padang 'Arafah. Ia adalah sebuah ritual haji paling inti. Disabdakan oleh Nabi Muhammad SAW, “al-Hajju 'Arafah” (haji itu wuquf di 'Arafah). Wuquf di 'Arafah sendiri melambangkan kesetaraan manusia di hadapan Tuhan. Di tempat ini semua identitas sosial, kultural (budaya), politik, ekonomi, ideologi-ideologi, sekte-sekte, jenis kelamin, warna kulit, bahasa dan lain sebagainya, melebur dan tak kentara lagi.
Ini adalah pesan perjuangan yang paling mendasar dan ilahiyah. Artinya bahwa segala perbedaan yang sengaja diciptakan Tuhan atau diciptakan manusia, tidak boleh menjadi dasar bagi upaya-upaya manusia untuk merendahkan, meminggirkan atau menyingkirkan manusia yang lain. Wuquf di 'Arafah, dengan begitu, adalah lambang persaudaraan di mana martabat manusia sesungguhnya adalah sama. “Sungguh orang-orang yang beriman (kepada Allah) adalah bersaudara” (QS. Yusuf [12]: 53).
Berpakaian Ihram, seperti ditegaskan Imam Junaid, adalah simbol dari kesadaran bahwa yang membedakan derajat manusia di hadapan Tuhan hanyalah takwa. (Q.S. al-Hujûrât [49]: 13). Sementara itu ibadah qurban yang juga dilakukan saat ibadah haji, sejatinya melambangkan perjuangan mewujudkan solidaritas sosial dan ekonomi.
Seandainya semua hikmah dari ibadah haji di atas dapat terwujud, artinya para jamaah haji mendapat predikat mabruk, pastinya berbagai krisis yang melanda negeri ini akan terkurangi. Terlebih lagi, jumlah jamaah haji asal Indonesia adalah salah satu yang terbesar. Namun, saat ini kita bisa melihat bahwa krisis, kemiskinan, pengangguran, ketimpangan, korupsi, dan segala hal yang jelek-jelek masih saja ada di bumi Indonesia tercinta ini. Berarti kita, dan terutama mereka yang sedang dan telah pernah menjalani ibadah haji, perlu mempertanyakan lagi ke-mabrur-an ibadah haji yang dijalani. Sejatinya yang perlu ditata adalah niat. Jika memang niat kita ikhlas, dan kita berusaha sekuat tenaga untuk menjaga keikhlasan niat tersebut, insya Allah kita akan mendapatkan hikmah ibadah haji.
Demikianlah makna dan hikmah yang terkandung dibalik pelaksanaan ibadah haji. Andaikan semua itu benar dihayati dan diamalkan dalam kehidupan setelah melaksanakan ibadah haji, maka tatanan kehidupan masyarakat yang adil dan sejahtera dan diridhai Allah akan terwujud. Wallahu'alam bi al-shawab.
kirim ke teman |
versi cetak