Bila kita terlalu sibuk bertengkar "membela" kebenarannya sendiri, siapa yang akan membela anak ini?[inspirasi: nesiabook]
Sungguh teramat sulit kejujuran ditemukan di tengah arus jaman yang penuh hiruk-pikuk cinta dunia. Cinta dunia atau hubb al-dunyā adalah pangkal kerakusan dan kehancuran. Cinta dunia menutup ruang suci dan spiritual di hati yang menuntun pada kejujuran. Jika ruang hati terkubur oleh cinta dunia, maka terkubur pula untuk mencintai yang lain, yakni: menicintai akhirat.
Menicinta akhirat adalah pangkal akhlak, pangkal kejujuran, pangkal kesederhanaan, dan pangkal kebaikan. Pendeknya pangkal taqwa. Taqwa adalah simbol penjagaan diri untuk tidak terperosok pada hal-hal yang menyimpang dan bertahan dalam kelurusan. Taqwa adalah derajat tertinggi seorang manusia di sisi Allah. Ini masuk akal karena dengan taqwa yang benar dan sejati, seorang anak manusia merasa terawasi oleh-Nya dan terus-menerus dalam ihsān (perbuatan baik). Ini berarti taqwa akan terus membentengi manusia untuk mencintai kejujuran dan membenci kebohongan dengan seluruh implikasi negatifnya.
Mencintai akhirat bukan berarti mengabaikan dunia. Dunia sangat perlu untuk menopang hidup layak dan mulia. Dunia bukan untuk dituhankan dan dipuja. Pemujaan kepada dunia akan menghilangkan spirit hidup bersahaja dan penuh kejujuran. Sebaliknya, pemujaan kepada dunia akan mendorong permainan kotor, kerakusan, persaingan tidak fair, dan ekses-ekses negatif lainnya. Itulah sebabnya, pemujaan kepada dunia sering menjadi penyebab kehancuran dan menjauhkan manusia kepada rasa hormat pada nilai-nilai yang lebih tinggi.
Secara historis, hancurnya peradaban di masa lalu disebabkan karena hilang nya akhlak dan kejujuran para pemimpinnya serta pengikutnya yang dalam konsep al-Qur’an disebut ingkar (lihat QS, 10:23 dan 29: 65). Keingkaran mereka kepada Tuhan dan hukum-hukum yang ditetapkan oleh-Nya diabaikan sehingga peradaban mereka tak dapat bertahan baik oleh bencana yang ditimpakan oleh Allah swt maupun karena perbuatan mereka (lihat pula QS al-Rum: 41). Bahkan Nabi Muhammad saw pernah menyatakan yang artinya, “Sebuah bangsa akan hancur jika akhlak bangsa itu telah rusak”. Socrates 800 tahun sebelumnya (sebelum Rasulullah) juga pernah mengatakan bahwa jika suatu bangsa telah memusuhi hukum, maka bangsa itu akan hancur. Pernyataan tersebut telah terbukti dalam kehancuran-kehancuran peradaban manusia.
Karena itu, kita harus selalu bercermin dalam kaca benggala sejarah. Kita tak boleh mengulangi kesalahan yang sama yang pernah dibuat manusia sebelumnya. Kita, sebaliknya, harus jujur pada dirinya sendiri. Manusia yang tercipta secara fitrah memiliki potensi untuk terus mencintai kejujuran dan mengimani Allah. Manusia-manusia semacam ini akan menyelamatkan masyarakat bangsa dari kematian massal secara konyol. Tetapi sayangnya, mengapa sejarah kehancuran itu sulit menjadi pelajaran bagi manusia modern, termasuk bangsa kita yang terus dirundung bencana dan pertikaian para pemimpin?
Saat ini sekitar 210.000 jemaah haji asal Indonesia tengah berada di Saudi Arabia. Kedatangan mereka ke baitullah (rumah Allah) bukan dalam rangka plesir, shoping, atau sekedar mengesahkan gelar H, Hj. didepan namanya. Lebih dari... Baca selengkapnya »
Hari Raya Idul Adha 1430 kembali hadir ditengah kisruh pelaksanaan sistem hukum yang terjadi di tanah air saat ini. Secara umum silang sengketa yang terjadi tersebut lebih banyak disebabkan oleh karena masing-masing pihak (aparat... Baca selengkapnya »
Sekalipun Islam, secara prinsip, sama, tunggal, dan berorientasi pada kebahagiaan dunia dan akhirat dalam kerangka ridha Allah, namun secara sosiologis Islam mewujud dalam bentuk warna-warni. Di dalam Islam, ki... Baca selengkapnya »
Apakah keberuntungan dan ketidakberuntungan bersifat permanen? Apakah ia merupakan takdir yang tak dapat diubah? Pertanyaan ini sangat penting bagi setiap orang. Jawaban atas ini akan menentukan gerak usaha yang dilakukan. Baca selengkapnya »
Pada dekade saat ini istilah terorisme begitu popular, melebihi popularitas istilah-istilah ilmiah yang terdapat dalam ilmu pengetahuan dan tekhnologi. Bahkan popularitas nama tokoh teroris atau yang disangka sebagai teroris bers... Baca selengkapnya »
Tanggal 28 bulan Oktober 81 tahun yang lalu para pemuda Indonesia yang berasal dari berbagai latarbelakang suku, bahasa, dan agama yang berbeda berkumpul dan bersatu dalam sebuah ko... Baca selengkapnya »
Setelah lebih dari sepekan pasca Gempa Bumi berkekuatan 7.6 SR yang menggetarkan Tanah Minang, kondisi darurat dibeberapa tempat berangsur-angsur membaik. Namun penderitaan, luka, duka dan trauma para korban masih menyelimuti kehid...